Berapa Luas Kawasan Parapuar Sebenarnya? 400 Ha, 129,6 Ha, dan Angka yang Simpang Siur

Luas kawasan Parapuar bergantung pada pertanyaan mana yang Anda ajukan: 400 ha adalah angka perencanaan yang digunakan BPOLBF dan BKPM dalam materi promosi investasi, sementara 129,6 ha adalah satu-satunya luas yang benar-benar tercatat dalam sertifikat Hak Pengelolaan Lahan (HPL) yang diserahkan pada 15 September 2023. Kedua angka ini tidak saling bertentangan — tetapi juga tidak dapat dipertukarkan, dan sumber-sumber media kerap mencampurnya tanpa penjelasan. Halaman ini menelusuri dari mana setiap angka berasal, mengapa keduanya bisa benar sekaligus menyesatkan, dan apa yang belum terbukti secara resmi.

Dua Angka, Dua Konteks

Ketika seseorang menyebut “luas kawasan Parapuar 400 hektar”, mereka biasanya mengutip bahan promosi BKPM atau siaran pers BPOLBF yang menggambarkan kawasan ini sebagai destinasi terpadu seluas sekitar 400 ha. Angka ini konsisten muncul di berbagai publikasi pemerintah dan advertorial media sejak sekitar 2022–2023. Masalahnya: tidak ada dokumen kadastral publik — tidak ada peta bidang, tidak ada SK penetapan yang bisa diakses bebas — yang mengonfirmasi bahwa luas 400 ha itu sudah terukur dan tersertifikasi. Perlakuan yang tepat adalah menyebutnya sebagai angka perencanaan atau target, bukan luas yang sudah terbukti di lapangan.

Angka 129,6 ha memiliki dasar dokumen yang jauh lebih kuat. Sertifikat HPL untuk Zona 1 Parapuar diterbitkan pada 12 September 2023 dan secara resmi diserahkan oleh Wakil Menteri ATR/BPN Raja Juli Antoni pada 15 September 2023 di lokasi Parapuar, disaksikan juga oleh Wamenparekraf Angela Tanoesoedibjo. Sertifikat ini adalah rekaman legal yang nyata — bukan janji, bukan target — atas hak pengelolaan BPOLBF atas Zona 1. Windonesia.com menyebutnya “sekitar 129,6 ha”, Wikipedia Indonesia mencatat “129,60 ha” dengan rencana pemanfaatan 20,05%, dan Antara (versi Bahasa Indonesia) secara konsisten menggunakan angka ini sebagai luas HPL aktual.

Kesalahan Format Angka: Mengapa Muncul “129.609 Hectares” dalam Laporan Berbahasa Inggris

Di sinilah kebingungan paling parah terjadi — dan paling jarang dijelaskan dengan benar.

Beberapa laporan berbahasa Inggris Antara menulis luas HPL Parapuar sebagai “129,609 hectares”. Pembaca yang terbiasa dengan konvensi angka Anglo-Amerika akan langsung membacanya sebagai 129.609 hektar — setara dengan sekitar 1.296 km², hampir seluas Provinsi Gorontalo. Angka itu jelas tidak masuk akal untuk satu kawasan pariwisata di atas kota Labuan Bajo.

Yang terjadi adalah kesalahan konversi format, bukan kesalahan data. Dalam format angka Indonesia, koma digunakan sebagai pemisah desimal, bukan titik. Jadi “129,609 ha” dalam Bahasa Indonesia berarti 129 hektar lebih 609 per seribu hektar — atau dibulatkan, 129,6 ha. Ketika angka itu dipindahkan ke teks Bahasa Inggris tanpa konversi format, koma desimal Indonesia terbaca sebagai pemisah ribuan Anglo-Amerika, sehingga 129,609 ha (Indonesia) menjadi “129,609 hectares” (Inggris) — sebuah angka yang 1.000 kali lebih besar dari maksudnya.

Ini bukan sekadar typo editorial. Ini adalah jebakan sistemik yang muncul setiap kali dokumen bilingual tidak mengonversi konvensi numerik secara eksplisit. Jika Anda menemukan angka “129,609 hectares” dalam laporan investasi Parapuar berbahasa Inggris, koreksi yang tepat adalah: angka itu merujuk pada ±129,6 ha (HPL Zona 1), bukan 129.609 ha.

Varian Ketiga: 132,43 Ha untuk Adventure Zone

Ada angka lain yang beredar — 132,43 ha — yang disebut dalam sumber advertorial sebagai luas Adventure Zone (zona petualangan) di dalam kawasan Parapuar. Sumber ini, berdasarkan penelusuran kami, berasal dari satu teks esai kritis (omong-omong.com, “Komodifikasi Hutan Bowosie”) yang merekap perincian zona dari presentasi atau dokumen BPOLBF non-publik.

Perincian zona selengkapnya menurut sumber tersebut:

Perkiraan Luas Per Zona Kawasan Parapuar (BELUM TERVERIFIKASI — satu sumber)
Zona Luas (ha, approx.) Status Verifikasi
Cultural Zone (Zona Budaya) ±114,73 BELUM TERVERIFIKASI (satu sumber)
Leisure Zone (Zona Rekreasi) ±63,59 BELUM TERVERIFIKASI (satu sumber)
Wildlife Zone (Zona Alam Liar) ±89,25 BELUM TERVERIFIKASI (satu sumber)
Adventure Zone (Zona Petualangan) ±132,43 BELUM TERVERIFIKASI (satu sumber)
Total ±400,00 Konsisten dengan angka perencanaan

Jumlah keempat zona ini memang mendekati 400 ha, yang mendukung kohesivitas internal angka-angka tersebut. Tapi perlu dicatat: tidak ada dari perincian ini yang muncul dalam dokumen resmi yang bisa diakses publik — tidak ada Rencana Induk (masterplan) Parapuar yang tersedia secara terbuka, tidak ada peta kadastral per zona yang dipublikasikan. Gunakan angka per-zona ini sebagai orientasi kasar, bukan sebagai fakta operasional untuk due diligence investasi.

Adapun angka 10,52 ha yang sering muncul bersamaan dengan Adventure Zone — itu adalah luas yang rencananya akan dibangun secara fisik di dalam Adventure Zone, atau sekitar 7,94% dari luas total zona tersebut (132,43 ha). Angka persentase ini terkait langsung dengan janji bahwa hanya sekitar 20% kawasan yang akan dibangun, 80% dipertahankan sebagai hutan.

Kontradiksi 20% vs 7,94%: Bukan Angka yang Sama

Dua persentase ini muncul dalam konteks yang berbeda dan kerap disalahartikan sebagai satu klaim.

20% adalah proporsi kawasan keseluruhan (dari total ±400 ha atau dari HPL 129,6 ha, tergantung sumber) yang direncanakan untuk terbangun. Wikipedia Indonesia mencatat “20,05% rencana pemanfaatan” dari luas HPL, yang menghasilkan sekitar 25,92 ha area terbangun dari 129,6 ha. Angka ini berasal dari materi BPOLBF yang dikutip ulang oleh Antara dan windonesia.com.

7,94% muncul spesifik untuk Adventure Zone: dari 132,43 ha luas zona petualangan, hanya 10,52 ha yang dijadwalkan dibangun secara fisik (10,52 ÷ 132,43 ≈ 7,94%). Ini bukan angka jaringan kawasan keseluruhan — ini hanya rasio bangun-terhadap-zona untuk satu dari empat zona.

Keduanya sah dalam konteksnya masing-masing. Mencampurnya — misalnya mengklaim “hanya 7,94% kawasan yang dibangun” sebagai fakta umum — akan menghasilkan kesan yang lebih hijau dari kenyataan, karena zona lain bisa jadi memiliki intensitas pembangunan lebih tinggi. Sebaliknya, mengklaim “80% tetap hutan” untuk seluruh kawasan 400 ha perlu dikritisi: HPL yang tersertifikasi baru mencakup 129,6 ha (Zona 1), dan tiga zona lainnya belum masuk HPL yang diketahui publik.

Jika Anda sedang melakukan due diligence untuk investasi di kawasan Parapuar, pertanyaan yang tepat kepada BPOLBF adalah: berapa luas HPL yang sudah tersertifikasi per zona, bukan sekadar total perencanaan 400 ha. Kami menyediakan jalur untuk mempertemukan Anda dengan konsultan hukum independen yang berpengalaman di bidang HPL dan perizinan pariwisata Indonesia — lihat formulir kontak kami atau WhatsApp untuk diskusi awal.

Ringkasan: Ledger Angka Luas Kawasan Parapuar

±400 ha
Angka perencanaan total kawasan Parapuar. Digunakan konsisten oleh BPOLBF, BKPM, dan media sejak 2022–2023. Belum dikonfirmasi dalam dokumen kadastral publik; perlakukan sebagai target atau batas perencanaan, bukan luas tersertifikasi.
±129,6 ha (HPL Zona 1)
Luas yang benar-benar tersertifikasi dalam HPL BPOLBF. Sertifikat diterbitkan 12 September 2023, diserahkan 15 September 2023 oleh Wamen ATR/BPN. Ini adalah satu-satunya luas yang memiliki dasar hukum terdokumentasi publik.
“129,609 hectares” (Antara EN)
Kesalahan format angka dalam laporan berbahasa Inggris. Angka aslinya adalah “129,609 ha” dalam format Indonesia (koma = pemisah desimal), artinya 129,609 ha ≈ 129,6 ha — bukan 129.609 hektar (yang setara dengan 1.296 km², mustahil untuk lokasi ini).
±132,43 ha (Adventure Zone)
Luas yang dilaporkan untuk zona petualangan. Satu sumber (advertorial/esai kritis); belum terkonfirmasi dari dokumen resmi publik. BELUM TERVERIFIKASI.
20% terbangun / 80% hutan
Janji BPOLBF untuk proporsi kawasan yang dibangun vs dipertahankan hijau. Angka ini muncul dalam materi Antara dan Wikipedia ID. Mengacu pada HPL, bukan seluruh 400 ha perencanaan.
7,94% (Adventure Zone)
Proporsi zona petualangan (10,52 ha dari 132,43 ha) yang direncanakan terbangun secara fisik. Bukan angka untuk keseluruhan kawasan. Satu sumber; BELUM TERVERIFIKASI.

Mengapa Angka-Angka Ini Penting bagi Investor

Bagi calon investor, perbedaan antara 400 ha dan 129,6 ha bukan sekadar teknis. HPL yang sudah tersertifikasi berarti ada dasar hukum yang jelas untuk mekanisme kerja sama — BPOLBF dapat menawarkan HGB di atas HPL atau skema kerja sama pemanfaatan lainnya atas tanah yang sudah bersertifikat. Tiga zona lainnya (Cultural, Leisure, Wildlife) masih dalam kawasan perencanaan 400 ha yang belum tentu sudah masuk proses HPL — status hukum tanah untuk lot-lot di zona tersebut perlu diverifikasi langsung dengan BPOLBF sebelum komitmen apapun.

Tidak ada tarif lot yang dipublikasikan. Tidak ada tenor HGB resmi yang diungkap ke publik (PP 18/2021 membolehkan hingga 30 tahun, diperpanjang 20 tahun, diperbarui 30 tahun — tapi apakah BPOLBF menerapkan skema itu secara persis untuk Parapuar, belum dikonfirmasi dari dokumen publik). Ini bukan hambatan investasi, tapi memang informasi yang harus digali melalui jalur resmi.

Yang pasti: dari 19 lot yang ditawarkan BPOLBF, baru dua investor yang namanya diketahui publik — Dusit (Thailand, ~US$15 juta, Lot 1.6, status “sedang berjalan”, dilaporkan April 2025, satu sumber) dan Eiger (~US$1,2 juta, toko dan kafe, komitmen konstruksi Oktober 2025, satu sumber). BPOLBF menyebut “5–6 investor berkomitmen” per pernyataan Plt Dirut Frans Teguh — identitas tiga hingga empat sisanya belum diungkap publik. Parapuar Park di-groundbreaking Agustus 2024. Yang sudah nyata berdiri: jalan akses, titik pandang 360° yang aktif digunakan untuk acara Weekend at Parapuar. Segala sesuatu yang lain — hotel, toko, fasilitas zona — masih dalam tahap komitmen atau perencanaan.

Ingin berbicara dengan penasihat hukum atau market-entry specialist yang berpengalaman di HPL dan perizinan BPOLBF? Kami tidak menjual tanah atau investasi — tapi kami bisa mempertemukan Anda dengan spesialis independen terverifikasi. Jika Anda menggunakan bantuan ini dan melanjutkan dengan mitra pilihan Anda, mereka mungkin membayar biaya referral kepada kami tanpa biaya tambahan bagi Anda. Hubungi kami melalui formulir kontak atau WhatsApp untuk diskusi awal tanpa komitmen.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah luas kawasan Parapuar 400 ha atau 129,6 ha?

Keduanya merujuk pada hal berbeda. 400 ha adalah total luas perencanaan kawasan Parapuar yang digunakan dalam materi promosi BPOLBF dan BKPM — angka ini belum dikonfirmasi dalam dokumen kadastral publik. 129,6 ha adalah luas HPL Zona 1 yang sudah tersertifikasi secara resmi pada 12–15 September 2023. Untuk keperluan investasi, hanya luas HPL tersertifikasi yang memiliki dasar hukum terdokumentasi.

Mengapa laporan Antara berbahasa Inggris menulis “129,609 hectares” untuk Parapuar?

Itu adalah kesalahan konversi format angka. Dalam penulisan angka Indonesia, koma berfungsi sebagai pemisah desimal — sehingga “129,609 ha” berarti 129,609 ha (sekitar 129,6 ha). Ketika angka itu disalin ke teks berbahasa Inggris tanpa penyesuaian format, koma terbaca sebagai pemisah ribuan, menghasilkan “129,609 hectares” — angka yang sebenarnya 1.000 kali lebih besar dari maksudnya dan secara fisik tidak masuk akal untuk lokasi di atas kota Labuan Bajo.

Apakah rincian luas per zona (Cultural 114,73 ha, Leisure 63,59 ha, dll.) sudah resmi?

Belum terverifikasi dari dokumen resmi publik. Angka-angka tersebut beredar melalui satu sumber sekunder (esai kritis yang merekap presentasi BPOLBF non-publik). Jumlah keempatnya memang mendekati 400 ha, yang konsisten secara internal — tapi tanpa dokumen masterplan atau peta kadastral resmi yang bisa diakses, angka per-zona ini sebaiknya diperlakukan sebagai gambaran orientasi, bukan data due diligence.

Apakah 80% kawasan Parapuar benar-benar dipertahankan sebagai hutan?

Itu adalah komitmen resmi BPOLBF — hanya sekitar 20% yang diizinkan dibangun. Untuk HPL Zona 1 (129,6 ha), ini berarti sekitar 25,9 ha area terbangun. Namun komitmen ini dikritisi oleh kelompok masyarakat sipil yang berargumen bahwa fragmentasi infrastruktur tetap berdampak pada fungsi ekologis hutan meski secara persentase tampak kecil. Hutan Bowosie adalah kawasan tangkapan air penting bagi kota Labuan Bajo, dan Sungai Wae Mese adalah sumber PDAM utama — risiko terhadap sistem hidrologi tetap relevan untuk dipertimbangkan.

Dari mana saya bisa mendapatkan dokumen resmi tentang luas dan status HPL Parapuar?

Sumber terbaik adalah BPOLBF secara langsung (divisi investasi dan kerja sama), Kantor Pertanahan (BPN) Kabupaten Manggarai Barat untuk data sertifikat HPL, dan siaran pers resmi Kementerian ATR/BPN terkait penyerahan sertifikat September 2023. Tidak ada masterplan Parapuar yang tersedia secara publik dalam bentuk PDF yang kami temukan — ini adalah kesenjangan informasi yang nyata, bukan hanya masalah pencarian. Jika Anda membutuhkan bantuan navigasi proses ini, hubungi kami untuk koneksi ke spesialis hukum properti dan HPL independen.

Scroll to Top